Selasa, 09 September 2008

Cornelius Wakili Papua ke Olimpiade Fisika Mongolia

JAYAPURA-Pernyataan President Tim Olimpiade Fisika Indonesia (Tofi), Prof Yohanes Surya, Ph.D bahwa pengetahuan eksakta anak-anak Papua tidak kalah dari daerah lainnya di Indonesia, bukan isapan jempol belaka. Terbukyi dari 16 orang mewakili Indonesia akan diberangkatkan untuk mengikuti perlombaan Olimpiade Fisika di Mongolia, 20-29 April mendatang, ternyata satu diantaranya perwakilan Provinsi Papua yaitu Cornelis Gandhi Wona.


Cornelis adalah merupakan salah satu siswa SMKN 5 Jayapura, putra dari Freddy Wona dan Ibu Jubelina Watopa Wona.Menurut, Yohanes Surya, 16 orang tersebut terdiri dari berbagai daerah yaitu, Papua, Nusa Tenggara Barat, Bali, Jawa Timur, Jawa Tengah, Pekalongan, Sulawesi Selatan dan Bontang. Ditanya soal apakah dirinya mendapatkan kendala dalam melatih dan membina peserta dalam memberikan pelajaran selama ini, lanjut dia, sebenarnya tidak sulit karena pihaknya dibantu 3 guru yang ditempatkan di asrama (karantina) untuk memberikan pelajaran. Hanya saja butuh waktu untuk bisa beradaptasi karena cara belajar yang didapat sewaktu duduk di SD sangat berbeda dengan yang didapat di SMP dan SMA.

"Kami tidak terlalu banyak menemukan kendala dalam memberikan pelajaran hanya saja perlu adaptasi pemikiran tentang cara belajar fisika dari tingkat SD karena cara belajar yang didapat sangat berbeda,"ungkapnya kepada wartawan di Restoran Bintang Laut, Senin (31/3) malam.

Menurutnya, untuk trik khusus yang dilakukan untuk menangani anak-anak tersebut tidak sulit dan hanya diberikan pengertian tentang fisika yang benar, maka mereka akan menikmatinya (enjoy) karena fisika itu asik untuk dipelajari. Cuma yang menjadi masalah adalah apabila diberikan soal, maka anak-anak tersebut akan sedikit bingung untuk menghubungkan antara satu dengan yang lain.

Dikatakan, yang terpenting untuk belajar fisika dan yang menjadi kunci adalah harus bisa dan mengerti tentang perkalian, pembagian, pengurangan dan pertambahan. "Kuncinya hanya anak-anak sudah mengerti perkalian, pertambahan, pembagian dan pengurangan maka semua itu tidak sulit,"tegasnya.Diungkapkan, khusus untuk menangani Cornelius adalah tidak sulit karena anak yang jenius dan baik sehingga pihaknya tidak mendapatkan kendala. Pelatihan dan pembinaan khusus yang dilakukan hanya selama 6 bulan yang memakan jam belajar dari pukul 7 pagi hingga 3 pagi ini ternyata diterima dengan baik. "Malah mereka masih meminta untuk diajari lagi,"katanya sembari tertawa. Untuk itu, dalam kompetisi ini hanya ditargetkan perunggu, tapi diharapkan tahun depan bisa mengikuti lagi dan akan ditargetkan mendapatkan perak atau emas.


"Saya berharap kepada Pemda Provinsi Papua untuk bisa melihat bibit yang bisa membawa nama baik Papua dalam bidang pendidikan, apalagi melihat Papua mendapatkan subsidi dari pemerintah pusat melalui Otsus, sudah sepantasnya lebih baik lagi"ujarnya.

Sementara itu, Jubelina Watopa Wona orang tua Cornelius, menuturkan, sebagai orang tua pada dasarnya ada kebanggaan tersendiri melihat anaknya bisa mengikuti olimpiade sampai ke luar negeri, karena dia mempunyai kemauan untuk belajar sehingga dilihat bahwa kemauan tersebut timbul dari dirinya sendiri. Artinya bahwa dia mempunyai kemauan keras untuk bisa berhasil.

"Saya berharap agar ada perhatian khusus dari pemerintah daerah supaya bisa mendorong program-program tersebut dan kita melihat bahwa ternyata sudah ada bukti bahwa anak-anak Papua yang dihasilkan melalui program ini mampu bersaing dengan daerah-daerah lainnya,"ungkapnya yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Komisi B Bidang Ekonomi DPRP.

Diungkapkan, sesuai dengan UU 21/2001 tentang Otsus bahwa pendidikan dan kesehatan adalah menjadi prioritas, oleh karena itu seharusnya bisa memikirkan ke depannya tentang SDM pendidikan di Papua sehingga anak-anak Papua bisa bersaing dengan derah lainnya khususnya fisika ini.

"Saya berharap kepada semua aspek untuk bisa membangun SDM pendidikan dalam mempersiapkan olimpiade berikutnya dan saya berharap kepada semua unsure untuk mari mendoakan agar dalam mengikuti olimpiade bisa mendapatkan yang terabaik dan keinginan masyatakat di Papua,"imbuhnya.

Menurut Ketua Komisi E Bidang Pendidikan, Kesehatan, Sosial, dan Olah raga, Zakarias Yoppo, S.Pak, memang masa Otsus pendidikan dan kesehatan menjadi prioritas itu sebabnya pemerintah memberikan perhatian besar bagi pendidikan dan menginginkan pendidikan yang terarah kemudian menciptakan suatu hasil kemajuan dalam arti bahwa pemerintah tidak sembarang memprogramkan pendidikan sehingga tidak terbuang sia-sia.

Dikatakan, pemerintah sudah seharusnya mempunyai program untuk bidang pendidikan artinya kepemimpinan gubernur sekarang harus bisa memberikan perhatian khusus sehingga ke depan apabila gubernur berganti maka program ini bisa dilanjutkan melalui suatu perencaan atau program yang sudah ada, apalagi program pendidikan ini sudah mencapai tingkat internasional yang telah membawa nama baik Indonesia khususnya Papua.

"Secara khusus saya mengucapkan terima kasih kepada Prof Yohanes Surya yang telah memberikan perhatian lebih khusus untuk pendidikan anak-anak Papua, hal ini sesuatu yang perlu dihargai dan disambut baik khusus Pemprov Papua dan pemerintah tingkat kabupaten/kota,"tandasnya. Diungkapkan, langkah yang dilakukan Prof Yohanes adalah suatu langkah yang luar biasa dan patut dicontoh oleh pemerintah bisa melanjutkan dan memberikan perhatian khusus, oleh karena itu guna mewujudkan pendidikan agar lebih baik maka perlu ada perhatian khusus juga kepada guru-guru khususnya bidang fisika agar anak-anak di Papua bisa menjadi yang terbaik.

Untuk diketahui Prof Johanes Surya juga adalah ahli fisika Universitas Multimedia Nusantara Jakarta.(roman -sumber:cepos)

Tidak ada komentar: